Tuesday, 17 February 2015

SUARA MERDU KYAI QOMARUZZAMAN


Kyai Qomaruzzaman

Cerita dari seorang Sahabat...............

Namanya Kyai Qamaruzzaman. Di daerahnya, Banten, beliau dikenal sebagai ulama yang aqra’ (paling ahli membaca qur’an), afshah (paling fasih membaca qur’an), a’lam (paling alim keilmuannya), dan afqah (paling ahli di bidang ilmu fikih).

Namun ada satu hal pada diri beliau yang sangat fenomenal; suaranya. Ya, beliau diberi anugerah oleh Allah memiliki suara yang sangat-sangat merdu. Kemerduannnya membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa betah berdekat-dekat menikmatinya.






Namun karena anugerah yang luar biasa ini pula yang menjadi awal dari cerita ini.
Beliau adalah imam rawatib di sebuah masjid di kampungnya. Banyak umat yang merasa senang berjamaah bersama beliau. Kemerduaan suara beliau saat membaca ayat-ayat al-Qur’an saat menjadi imam lah yang menjadi daya tarik. Bahkan lebih dari itu, ibu-ibu sekitar masjid yang sedang mengalami menstruasi pun menyempatkan dating ke masjid hanya untuk ikut mendengarkan bacaan beliau dengan suara merdunya.
Tak sampai di sini saja pengaruh dari kemerduan suara Kyai Qamaruzzaman. Tak jarang di tengah-tengah shalat berjamaah beberapa orang makmum terjatuh tak sadarkan diri karena tenggelam dalam kemerduan suara dan bagusnya bacaan beliau.

Fenemonema ini berlangsung beberapa lama. Hingga akhirnya mengundang kegelisahan di antara para ulama yang lain. Banyak di antara mereka yang berdiskusi tentang keabsahan shalat berjamaah dengan fenemona demikian. Akhirnya seorang Kyai Suhaimi, kyai sepuh di Banten yang juga guru dari Kyai Qamaruzzaman, berinisiatif untuk membahas hal ini bersama para kyai sepuh yang lain.

Hasil dari pembahasan mereka adalah; pertama, Kyai Qamaruzzaman tidak diperbolehkan menjadi imam shalat jamaah. Dengan alaasan kemerduan suara beliau membuat para makmum terlena bahkan sampai kehilangan kesadaran saat shalat hingga mereka tak membaca surat al-Fatihah sehingga shalatnya para makmum itu tidak sah. Kedua, Kyai Qamaruzzaman juga tidak diperbolehkan menjadi makmum jamaah di masjid. Alasannya, selain beliau tidak ada lagi orang yang lebih afshah, lebih aqra’, lebih a’lam, dan lebih afqah. Bila beliau ikut berjamaah di masjid maka beliaulah yang semestinya paling memenuhi syarat menjadi imam.

Alhasil, dengan penuh ta’dhim dan rasa tawadlu’ terhadap para kyai yang beliau hormati mulai saat itu Kyai Qamaruzzaman tak lagi shalat di masjid. Tidak sebagai imam, juga tidak sebagai makmum. Beliau shalat di rumah.

Sekian lama melakukan shalat di rumah timbul rasa rindu pada shalat berjamaah di masjid. Awalnya perasaan itu beliau tahan. Namun semakin lama kerinduan itu semakin menguat dan akhirnya beliau putuskan untuk dating ke masjid.

Agar tak menyalahi fatwa para kyai sepuh Banten itu Kyai Qamaruzzaman melakukan satu cara tak lazim yang membuat siapapun merasa miris; mencabut seluruh giginya. Ya, demi bisa melakukan shalat berjamaah di masjid dengan senang hati beliau mencabut seluruh giginya hingga tak tersisa satu biji pun. Dengan tak ada gigi di mulut maka beliau tak bisa membaca ayat al-Qur’an dengan baik, benar, dan fasih. Tak adanya gigi juga berefek pada suaranya yang tak lagi merdu.

Kini Kyai Qamaruzzaman kembali aktif shalat berjamaah di masjid. Kini beliau bisa menjadi makmum, sementara orang lain tak terhalang untuk menjadi imam. Karena beliau tak lagi menjadi orang paling afshah dan paling aqra’.

Rupanya Allah masih belum selesai memberi keistimewaan sekaligus cobaan bagi beliau. Tak lama setelah beliau kembali aktif berjamaah di masjid Allah memberinya keistimewaan yang lain. Beliau diberi kasysyaf, kemampuan melihat apa-apa yang tak kasat mata, kemampuan melihat apa yang sesungguhnya nampak di balik apa yang nampak di depan mata. Siapapun boleh saja melihat seseorang sebagai manusia. Namun di mata Kyai Qamaruzzaman seseorang bisa nampak sebagai binatang tertentu sesuai perilaku yang dilakoninya.

Atas anugerah ini beliau kembali tak betah. Beliau tak ingin selalu tahu hakekat kepribadian satu per satu orang yang dilihatnya. Maka kini beliau lebih sering berada di rumahnya. Sebagian besar waktunya beliau habiskan untuk membaca kitab Tafsir Al-Munir karya Syekh Nawawi al-Bantani. Entah sudah berapa kali kitab dua jilid tebal itu beliau khatamkan, ditemani rokok kegemaran yang selalu bersambung dihisapnya.
Pertengahan September 2013 yang lalu beliau dpanggil ke rahmatullah, di samping usianya yang sudah sangat sepuh juga karena penyakit dalamnya yang sudah cukup lama beliau tanggung. Konon, saat dokter membaca gambar hasil CT Scan-nya sang dokter tak melihat ada organ paru-paru di dalam tubuhnya.
Semoga Allah senantiasa merahmati beliau di sisi-Nya. Semoga Allah memberi kepada anak-anak kita ulama yang ikhlas seperti beliau. Semoga anak-anak kita diberi kesempatan, kemauan, dan kemampuan untuk belajar kepada ulama ikhlas seperti beliau.

Untuk Kyai Qamaruzzaman, Al-Fatihah.

(Diceritakan oleh Gus Aqib, mantan sekretaris PP. Lakpesdam NU saat wedangan bareng penulis di warung angkring suatu malam)

No comments:

Post a Comment

Buat Email | Copyright of "EMPERAN MASJID" TEMPAT KONGKOW NYA ANAK MASJID.