Friday, 20 March 2015

UNTUK APA AL QUR'AN DI TURUNKAN


Al Qur'anul Kariim

Al Qur'anul Karim diturunkan oleh Allah swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. adalah untuk menyempurnakan petunjuk-petunjukNya kepada manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat, Sebelum Al Qur'an diturunkan, manusia telah mendapat tiga macam petunjuk dari Allah swt., yaitu:


Ilham Fithri

Ilham Fithri adalah petunjuk yang diberikan oleh Allah swt. pada saat manusia baru saja lahir di dunia ini. Dengan ilham fithri ini bayi yang baru lahir sudah dapat merasakan lapar, kenyang, haus, puas, panas, dingin dan lain sebagainya; dapat menyatakan perasaannya yang tak enak dengan bahasa yang sama di seluruh dunia, yaitu menangis; dan memiliki kemampuan untuk menetek serta menelan makanan yang disuapkan kepadanya. Petunjuk ini dimaksudkan agar sang bayi dapat melangsungkan hidupnya di dunia ini. Sebab andaikata bayi yang baru lahir itu tidak diberi kemampuan seperti tersebut di atas oleh Penciptanya, yaitu Allah swt., maka pada waktu yang relatif pendek bayi tersebut pasti mati. Jadi petunjuk pertama yang diberikan dengan gratis oleh Sang Pencipta ini adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri, dan sama sekali bukan untuk kepentingan Allah swt. yang memberikan petunjuk tersebut. Dalam surat Asy Syams ayat 7, Allah berfirman:

"Demi jiwa dan apa saja yang menyempurnakannya".


Bagi binatang bersel satu, dengan satu petunjuk saja dari Penciptanya, dia sudah dapat hidup dan berkembang biak dengan baik. Akan tetapi bagi manusia, dia tidak mungkin dapat hidup dengan petunjuk yang pertama saja. Sebab kalau sampai dewasa manusia hanya dapat menangis dan menetek saja, maka siapakah yang akan meneteki? Oleh karena itu kita wajib bersyukur kepada Allah swt. yang dengan kasih sayang-Nya, tanpa diminta dan tanpa dibeli, telah berkenan memberikan petunjukNya yang kedua yang berupa:

Pendengaran, dengan telinga sebagai alatnya.
Penglihatan, dengan mata sebagai alatnya.
Pencium, dengan hidung sebagai alatnya.
Pengecap, dengan lidah sebagai alatnya.
Peraba, dengan kulit sebagai alatnya.

Af'idah atau rasio atau akal pikiran

Bagi binatang ternak seperti kerbau, sapi, kambing dan lain sebagainya, dengan dua petunjuk dari Penciptanya, sudah dapat hidup dan berkembang biak dengan baik. Akan tetapi manusia tidak mungkin dapat hidup dengan dua macam petunjuk di atas. Lebih-lebih panca indera yang diberikan oleh Allah swt. kepada manusia memiliki banyak kekurangan dibandingkan dengan binatang-binatang tertentu. Disamping itu, Allah swt. memberikan kelebihan-kelebihan tertentu, seperti: terbang, lari kencang, kekuatan, kepandaian memanjat dan lain sebagainya kepada binatang-binatang yang tidak diberikan kepada manusia.

Oleh karena itu kita wajib bersyukur kepada Allah swt. yang dengan kasih sayang dan karunia-Nya, tanpa kita minta dan tanpa kita beli, telah berkenan memberikan petunjukNya yang ketiga berupa af'idah atau ratio atau akal pikiran. Dalam Al Qur'an surat An Nahlu ayat 78 Allah swt. telah berfirman:

Artinya:
 "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal pikiran), agar kamu bersyukur".

Dengan akal pikiran ini, manusia tidak hanya dapat membedakan dirinya dengan binatang, akan tetapi dengan akal pikiran yang dimiliki, manusia telah mampu menciptakan alat-alat tehnologi yang sangat canggih dan sangat mengagumkan. Bahkan jika hasil penemuan akan pikiran sekarang ini diceriterakan pada zaman Majapahit, kemungkinan besar orang yang berceritera tidak dipercaya orang dan bahkan dianggap gila. Dapat kita bayangkan tanggapan dan sikap orang, jika pada zaman itu ada orang yang berceritera bahwa segala kejadian yang terjadi di dunia dapat kita lihat dan kita saksikan, meskipun jaraknya sangat jauh atau ribuan kilometer; dan kitapun dapat berwawancara dan berkomunikasi dengan orang lain di seluruh dunia tanpa harus dibatasi oleh jarak. Apa saja yang rasanya tidak mungkin terjadi pada zaman itu, sekarang ini sudah dapat kita saksikan dengan mata kepala kita, sehingga tidak mengherankan jika ada sementara orang yang karena silau menyaksikan kecerdasan akal pikiran dan otak manusia yang luar biasa, telah beranggapan bahwa untuk mencapai kebahagiaan hidup yang sejati, manusia cukup mengandalkan kemampuan akal pikiran saja dan tidak perlu agama yang mereka anggap menghambat kemajuan akal pikiran manusia; sehingga agama itu harus disingkirkan jauh-jauh dari kehidupan manusia. Demikianlah pendapat dan faham dari golongan sekuler.

Akan tetapi, betapapun cerdas, jenius dan brilian akal pikiran seseorang, ternyata akal dikiran itu memiliki kelemahan pokok yang tidak akan pernah dapat diatasi oleh akal pikiran itu sendiri. Tiga kelemahan pokok tersebut adalah:

Akal pikiran manusia meskipun cerdas, ternyata tidak dapat mengetahui hakekat kebenaran. Buktinya adalah banyaknya teori kebenaran yang telah dikemukakan oleh para ahli filsafat. Padahal kita tahu bahwa kebenaran yang sejati itu hanyalah satu. Disamping itu, setiap percekcokan, pertengkaran, perkelahian dan peperangan yang terjadi di seluruh dunia ini, sumbernya pastilah karena masing-masing pihak berebut benar.

Akal pikiran manusia meskipun cerdas, ternyata tidak dapat mengetahui hakekat dan letak kebahagiaan hidup. Apa yang dibayangkan oleh seseorang akan membahagiakan hidupnya, ternyata setelah apa yang dibayangkan tersebut tercapai, justeru seringkali mengantarkannya kepada kesengsaraan hidup yang berkepanjangan.

Akal pikiran manusia meskipun cerdas, ternyata tidak mampu menjawab tujuh macam pertanyaan yang diajukan kepadanya, yaitu:

  1. Dari mana asal manusia ini sebelum hidup di dunia?
  2. Mengapa manusia harus hidup di dunia ini?
  3. Siapa gerangan yang menghendaki kehidupan manusia di dunia ini?
  4. Untuk apa sebenarnya manusia hidup di dunia ini?
  5. Mengapa setelah manusia terlanjur senang hidup di dunia ini dia harus mati, pada hal tidak ada orang yang menginginkan kematian?
  6. Siapa sebenarnya yang menghendaki kematian manusia itu?
  7. Setelah manusia mati, ruhnya berpisah dengan raganya, kemana ruh manusia itu pergi?

Ketiga macam kelemahan akal pikiran manusia tersebut di atas adalah suatu bukti yang nyata bahwa manusia mutlak memerlukan petunjuk dari Sang Pencipta akal pikiran manusia itu sendiri, dan bukan petunjuk dari selain-Nya.

Oleh karena itu kita wajib bersyukur kepada Allah swt., Pencipta manusia dan alam semesta, yang telah berkenan memberikan petunjuk yang keempat yang dipergunakan untuk menyempurnakan petunjuknya yang ketiga. Petunjuk yang keempat inilah yang dikenal dengan nama "Ad Dien" (agama), yang diberikan oleh Allah swt. kepada manusia melalui para nabi yang diangkat sebagai rasul atau utusan Allah, sejak rasul yang pertama yaitu nabi Adam as. sampai dengan yang terakhir, yaitu Nabi Besar Muhammad saw. 

Sedangkan petunjuk keempat yang diberikan kepada Nabi Besar Muhammad saw. semuanya telah terkumpul dalam sebuah kitab suci, yaitu Al Qur'anul Karim yang diberikan secara gratis oleh Allah swt. tanpa diminta dan dibeli. Dan sebagaimana petunjuk yang pertama sampai dengan yang ketiga, maka petunjuk yang keempat inipun diberikan oleh Allah swt. untuk kepentingan manusia dalam usaha mencapai kebahagiaan hidup. Disamping sebagai petunjuk, Al Qur'anul Karim juga berfungsi sebagai penjelasan tentang cara melaksanakan petunjuk dan sebagai pemisah antara yang hak dan yang bathil, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 185 yang antara lain berbunyi:

Artinya: 
"Bulan Ramadlan ialah bulan yang diturunkan pada bulan tersebut Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelasan tentang petunjuk tersebut dan pemisah (antara yang hak dan yang bathil) ... dst".

Jika petunjuk yang pertama sampai dengan yang keempat diberikan oleh Allah swt. secara gratis tanpa diminta, maka masih ada lagi satu petunjuk yang tidak diberikan secara gratis, tetapi harus diminta, yaitu: "Kasyful Quluub" (tersingkapnya tabir hati). Petunjuk ini adalah petunjuk yang kelima atau yang terakhir yang diberikan oleh Allah swt. kepada manusia.

Orang yang telah mendapatkan petunjuk yang kelima ini, dia tidak hanya mengetahui akan kebenaran agama Islam, akan tetapi dia dapat merasakan betapa nikmat rasanya menjadi orang yang memeluk agama Islam, menjadi orang yang beriman dan melakukan ibadah, khususnya melakukan shalat, karena shalat itu pada hakekatnya adalah menghadap Allah swt. sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. yang antara lain berbunyi:

... dan telah dijadikan kesenangan hatiku dalam shalat.

Akan tetapi petunjuk ini harus diminta, paling sedikit 17 (tujuh belas) kali sehari semalam, yaitu pada setiap raka'at shalat, pada waktu kita membaca surat Al Fatihah, pada ayat yang berbunyi:


Berilah kami petunjuk jalan yang lurus yang dapat mendekatkan diri kepada-Mu.

Apabila permohonan ini disertai dengan usaha membersihkan hati dari sifat-si-fat yang tercela yang induknya disebutkan oleh Imam Al Ghozali sebanyak sepuluh, yaitu:

  • Tamak makan
  • Tamak bicara
  • Suka marah
  • Hasud
  • Bakhil dan senang harta
  • Ambisi dan gila hormat
  • Senang dunia
  • Membanggakan diri
  • Takabbur
  • Riya' (mencari simpati manusia dengan amal ibadah)


Kemudian hati yang telah bersih dari sifat-sifat yang tercela itu dihiasi dengan sifat-sifat yang terpuji yang induknya oleh Imam Al Ghozali juga disebutkan sebanyak sepuluh, yaitu:

  • Taubat
  • Khouf (khawatir) dan raja' (berharap)
  • Zuhud
  • Sabar
  • SyukurIkhlas dan jujur
  • Tawakkal
  • Mencintai Allah
  • Rela terhadap ketetapan Allah
  • Selalu mengingat mati dan hakekatnya


Dan dalam setiap ibadah selalu berusaha memusatkan seluruh perhatian jiwa untuk menghadap kepada Allah swt. Maka pada saat Allah swt. berkenan memberikan petunjukNya yang kelima kepada seseorang yang telah melakukan usaha seperti tersebut di atas, Allah swt. memasukkan nur atau cahaya ke dalam hatinya yang akan menerangi seluruh hati dan tubuhnya ... dan di saat inilah orang tersebut merasakan kelezatan iman dan kelezatan ibadah.

Kapankah Al Qur'an itu diturunkan?

Al Qur'an itu diturunkan dua kali, yaitu yang pertama diturunkan sekaligus sebanyak 30 juz dari tempatnya yang asli (lauh makhfudh) ke langit dunia, ditempatkan di suatu tempat yang dinamakan "Baitul 'Izzah" pada suatu malam yang terkenal dengan nama "Lailatul Qadar", sebagaimana firman Allah swt. dalam surat Al Qadar ayat 1 yang berbunyi:

Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur'an pada malam qadar.

Yang kedua adalah Al Qur'an diturunkan sedikit demi sedikit kepada Nabi Besar Muhammad saw. dalam masa 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari. Ayat yang pertama kali turun pada tanggal 17 Ramadlan pada waktu berada di gua Hira' setelah beliau genap berumur 40 tahun, adalah lima ayat dalam surat Al 'Alaq yang berbunyi:

Artinya:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya".

Sedang ayat yang terakhir kali turun sewaktu Nabi Besar Muhammad saw. berada di Mina melakukan haji wada' (haji Nabi saw. yang terakhir kalinya), adalah yang tersebut dalam surat Al Ma'idah ayat 3 yang berbunyi:

Artinya:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridlai Islam itu jadi agama bagimu...."

Jadi ayat-ayat Al Qur'an yang turun kepada Nabi Besar Muhammad saw. adalah berangsur-angsur dan tidak sekaligus. Hal ini mengandung hikmah yang antara lain:
Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan perintah dan larangan, sekiranya perintah dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dari riwayat 'A'isyah ra.
Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan kemaslahatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Qur'an diturunkan sekaligus.
Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al Qur'an tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an surat Al Furqan ayat 32 yang berbunyi sebagai berikut:

Artinya: 
"Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?. Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya kelompok demi kelompok".

Di antara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban dari pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu 'Abbas ra. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al Qur'an diturunkan sekaligus.

Cara Al Qur'an diwahyukan

Nabi Muhammad saw. dalam hal menerima wahyu, mengalami bermacam-macam cara dan keadaan, di antaranya:

Malaikat itu memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi saw. tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa wahyu itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi saw. mengatakan: "Ruhul Qudus mewahyukan ke dalam kalbuku", sebagaimana disebutkan dalam surat Asy Syuura ayat 51 yang berbunyi:

Artinya: 
"Dan tidak mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana".

Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi saw. berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya, sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.

Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi saw. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit, 
"Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika wahyu turun seakan-akan diserang  oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudi an setelah selesai wahyu turun, barulah beliau kembali seperti biasa".

Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi saw., tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan nomor 2, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli.
Hal ini tersebut dalam Al Qur'an surat An Najmu ayat 13 - 14 sebagai berikut:

Artinya: 
"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratil Muntaha."

*Disusun oleh:* Drs. KH. Achmad Masduqi

No comments:

Post a Comment

Buat Email | Copyright of "EMPERAN MASJID" TEMPAT KONGKOW NYA ANAK MASJID.